Wednesday, March 25, 2020

Pengaruh Covid-19 Terhadap Berbagai Macam Aspek Serta Solusi Dalam Penanganannya


PENGARUH COVID-19 TERHADAP BERBAGAI MACAM ASPEK SERTA SOLUSI DALAM PENANGANANNYA

MAKALAH

Untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Kewirausahaan I
Dosen Pengampu : Dr. H. FAUZAN ALMANSHUR, ST., MM     






Disusun oleh:
Ilham Muzaki
NIM: 17510024






UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
2019/2020




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
            Di zaman era globalisasi ini, yang dimana semua serba instan atau bisa dikatakan serba ada, berdampak besar bagi umat manusia, terdapat dampak positif dan terdapat pula dampak negatifnya, begitu pula berdampak terhadap wirausahawan atau yang baru merintis bisnis. di era glogbalisasi ini jika dibilang lebih condong ke dampak positif maupun negatif kembali lagi terhadap siapa yang mengoperasikan atau mengendalikanya. Manusia adalah penggerak dimuka bumi ini, seperti yang dijelaskan dalam agama Islam bahwa manusia adalah manusia sebagai hamba dan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi, begitu juga dengan adanya bencana ataupun musibah itu tidak lain ulah dari tangan manusia itu sendiri, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11). Begitu juga dengan wabah penyakit atau virus sekarang ini (covid-19) yang begitu sangat pesat penyebarannya, sebab dari wabah virus ini juga tidak lain dari ulah tangan-tangan manusia itu sendiri. Dan efeknya pun juga menyeluruh ke belahan dunia, begitu halnya juga menghambat roda perekonomian global dan tidak lain para wirausahawan. Jadi disini merupakan PR bagi negara-negara untuk bisa tetap menggerakan roda perekonomian negaranya dan tentunya juga para wirausahawan meskipun wabah covid-19 melanda dan tidak diketahui kapan berakhirnya.
            Apakah wabah covid-19 ini bisa menghentikan perekonomian dan wirausahawan disuatu negara?. Bisa, jika dalam penanganan dan solusi disuatu negara tersebut lemah atau kurang tanggapnya pemerintah dalam menanggapi wabah covid-19 tersebut. Jika kita lihat wabah covid-19 di Indonesia, terdapat kurang tanggapnya pemerintah Indonesia dalam menangani wabah virus tersebut sehingga menyebabkan juga cabutnya investor dari Indonesia. Faktor kendala yang utama yaitu kurangnya ketersediaan rumah sakit khusus untuk menangani pasien covid-19, karena ada beberapa rumah sakit sekarang itu tujuannya berbeda dengan rumah sakit yang terdahulu, yang dimana rumah sakit terdahulu lebih mementingkan kesosialanya atau mementingkan untuk membantu masyarakat, jauh berbeda dengan beberapa rumah sakit yang sekarang, yang dimana beberapa rumah sakit tujuanya sebagai ladang bisnis. Sehingga sekarang ada beberapa rumah sakit lebih menjaga image, dalam arti ketika terdapat pasien covid-19, rumah sakit tersebut tidak mau menerima. Jika menerima, pasien yang lain-lain akan takut bahkan pindah ke rumah sakit yang lain, karena terdapatnya pasien covid-19, dan tentunya juga mengurangi penghasilan atau pendapatan rumah sakit tersebut. Jika maupun menerima, rumah sakit tersebut tidak mau di beberkan nama serta adanya pasien covid-19 tersebut, supaya pasien-pasien yang lain tidak takut ataupun pindah ke rumah sakit yang lain, sehingga pendapatan atau penghasilan rumah sakit tetap bertambah. Ini merupakan fenomena di negara kita sekarang, dan PR kita semua terutama bagi pemerintah untuk lebih tegas dan bijak dalam mengatasi masalah dan fenomena yang dihadapi sekarang ini.

B.      Rumusan Masalah
1.       Apa pengertian dan penjelasan wabah covid-19 ?
2.       Apa yang terjadi pada tubuh jika terinfeksi covid-19 ?
3.       Bagaimana dampak covid-19 terhadap perekonomian global ?
4.       Bagaimana dampak covid-19 terhadap perekonomian Indonesia ?
5.       Bagaimana dampak covid-19 terhadap dunia kewirausahaan ?
6.       Bagaimana solusi mengakhiri wabah covid-19 ?

C.      Tujuan Masalah
1.       Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan wabah covid-19.
2.       Untuk mengetahui yang terjadi pada tubuh jika terinfeksi covid-19.
3.       Untuk mengetahui dampak covid-19 terhadap perekonomian global.
4.       Untuk mengetahui dampak covid-19 terhadap perekonomian Indonesia.
5.       Untuk mengetahui dampak covid-19 terhadap dunia kewirausahaan.
6.       Untuk mengetahui solusi mengakhiri wabah covid-19.



BAB II
PEMBAHASAN

            World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa Coronaviruses (Cov) adalah virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona menyebabkan penyakit flu biasa sampai penyakit yang lebih parah seperti Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV) dan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS-CoV). Virus Corona adalah zoonotic yang artinya ditularkan antara hewan dan manusia. Berdasarkan Kementerian Kesehatan Indonesia, perkembangan kasus COVID-19 di Wuhan berawal pada tanggal 30 Desember 2019 dimana Wuhan Municipal Health Committee mengeluarkan pernyataan “urgent notice on the treatment of pneumonia of unknown cause”. Penyebaran virus Corona ini sangat cepat bahkan sampai ke lintas negara. Sampai saat ini terdapat 93 negara yang mengkorfirmasi terkena virus Corona. Penyebaran virus Corona yang telah meluas ke berbagai belahan dunia membawa dampak pada perekonomian dunia baik dari sisi perdagangan, investasi dan pariwisata.
            China merupakan negara eksportir terbesar dunia. Indonesia sering melakukan kegiatan impor dari China dan China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Adanya virus Corona yang terjadi di China menyebabkan perdagangan China memburuk. Hal tersebut berpengaruh pada perdagangan dunia termasuk di Indonesia. Penurunan permintaan bahan mentah dari China seperti batu bara dan kelapa sawit akan mengganggu sektor ekspor di Indonesia yang dapat menyebabkan penurunan harga komoditas dan barang tambang.
            Penerimaan pajak sektor perdagangan juga mengalami penurunan padahal perdagangan memiliki kontribusi kedua terbesar terhadap penerimaan pajak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor migas dan non-migas mengalami penurunan yang disebabkan karena China merupakan importir minyak mentah terbesar. Selain itu, penyebaran virus Corona juga mengakibatkan penurunan produksi di China, padahal China menjadi pusat produksi barang dunia. Apabila China mengalami penurunan produksi maka global supply chain akan terganggu dan dapat mengganggu proses produksi yang membutuhkan bahan baku dari China. Indonesia juga sangat bergantung dengan bahan baku dari China terutama bahan baku plastik, bahan baku tekstil, part elektronik, komputer dan furnitur.
            Virus Corona juga berdampak pada investasi karena masyarakat akan lebih berhati-hati saat membeli barang maupun berinvestasi. Virus Corona juga memengaruhi proyeksi pasar. Investor bisa menunda investasi karena ketidakjelasan supply chain atau akibat asumsi pasarnya berubah. Di bidang investasi, China merupakan salah satu negara yang menanamkan modal ke Indonesia. Pada 2019, realisasi investasi langsung dari China menenpati urutan ke dua setelah Singapura. Terdapat investasi di Sulawesi berkisar US $5 miliar yang masih dalam proses tetapi tertunda karena pegawai dari China yang terhambat datang ke Indonesia.
            Indonesia adalah salah satu negara yang memberlakukan larangan perjalanan ke dan dari China untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Larangan ini menyebabkan sejumlah maskapai membatalkan penerbangannya dan beberapa maskapai terpaksa tetap beroperasi meskipun mayoritas bangku pesawatnya kosong demi memenuhi hak penumpang. Para konsumen banyak yang menunda pemesanan tiket liburannya karena semakin meluasnya penyebaran virus Corona. Keadaan ini menyebabkan pemerintah bertindak dengan memberikan diskon untuk para wisatawan dengan tujuan Denpasar, Batam, Bintan, Manado, Yogyakarta, Labuan Bajo, Belitung, Lombok, Danau Toba dan Malang. Di Eropa juga memberlakukan aturan dimana maskapai penerbangan harus menggunakan sekitar 80 persen slot penerbangan yang beroperasi ke luar benua Eropa agar tidak kehilangan slot ke maskapai pesaingnya. Bukan hanya di Indonesia yang membatasi perjalanan ke China, namun negara-negara yang lain seperti Italia, China, Singapura, Rusia, Australia dan negara lain juga memberlakukan hal yang sama.
            Virus Corona juga sangat berdampak pada sektor pariwisata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa wisatawan asal China mencapai 2.07 juta orang pada tahun 2019 yang mencakup 12.8 persen dari total wisatawan asing sepanjang 2019. Penyebaran virus Corona menyebabkan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia akan berkurang. Sektor-sektor penunjang pariwisata seperti hotel, restoran maupun pengusaha retail pun juga akan terpengaruh dengan adanya virus Corona. Okupansi hotel mengalami penurunan sampai 40 persen yang berdampak pada kelangsungan bisnis hotel. Sepinya wisatawan juga berdampak pada restoran atau rumah makan yang sebagian besar konsumennya adalah para wisatawan. Melemahnya pariwisata juga berdampak pada industri retail. Adapun daerah yang sektor retailnya paling terdampak adalah Manado, Bali, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Medan dan Jakarta. Penyebaran virus Corona juga berdampak pada sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) karena para wisatawan yang datang ke suatu destinasi biasanya akan membeli oleh-oleh. Jika wisatawan yang berkunjung berkurang, maka omset UMKM ini juga akan menurun. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada tahun 2016 sektor UMKM mendominasi unit bisnis di Indonesia dan jenis usaha mikro banyak menyerap tenaga kerja.
            Beberapa langkah yang dilakukan Indonesia dalam menghadapi dampak dari virus Corona ini adalah menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4.75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4.00% dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5.50%. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan ekonomi global sehubungan dengan terjadinya Covid-19. Bank Indonesia akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik untuk menjaga agar inflasi dan stabilitas eksternal tetap terkendali serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi.
            Di lain sisi, virus Corona tidak hanya berdampak negatif, namun juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah terbukanya peluang pasar ekspor baru selain China. Selain itu, peluang memperkuat ekonomi dalam negeri juga dapat terlaksana karena pemerintah akan lebih memprioritaskan dan memperkuat daya beli dalam negeri dari pada menarik keuntungan dari luar negeri. Kondisi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai koreksi agar investasi bisa stabil meskipun perekonomian global sedang terguncang.
            Dampak yang disebabkan oleh virus Corona bukan hanya di Indonesia saja melainkan di beberapa negara di belahan dunia. Pada tanggal 22-23 Februari 2020 telah berlangsung pertemuan G20 yang diadakan di Arab Saudi. Anggota G20 ini terdiri dari Amerika Serikat, Argentina, Australia, Brasil, Kanada, China, Perancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris dan Uni Eropa. Wabah virus Corona menjadi topik diskusi pada pertemuan tersebut. Dalam pertemuan G20, negara-negara G20 menyampaikan simpati kepada masyarakat dan negara yang terdampak virus Corona, khususnya China. Munculnya berbagai tekanan global, salah satunya adalah Covid-19 mendorong negara-negara G20 untuk meningkatkan kerja sama dengan mempererat kerja sama internasional. Negara-negara G20 juga sepakat memperkuat pemantauan terhadap risiko global khususnya yang berasal dari Covid-19, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko dan sepakat untuk mengimplementasikan kebijakan yang efektif baik dari sisi moneter, fiskal, maupun struktural.
            Arab Saudi yang menjadi Presidensi G20 pada tahun 2020 mengusung tema “Realizing The Opportunity of The 21st Century”. Hal ini dilatarbelakangi perkembangan teknologi yang sangat pesat sehingga mengubah tatanan perekonomian global menuju ekonomi dan keuangan digital. Namun, partisipasi masyarakat dalam perekonomian khususnya kelompok muda, perempuan dan UMKM dipandang belum optimal, sehingga membutuhkan upaya untuk membuka akses kepada mereka dalam kegiatan perekonomian melalui pemanfaatan teknologi. Selain itu, agenda Presidensi G20 adalah pengembangan pasar modal domestik dan penguatan pengaturan dan pengawasan sektor keuangan.
            Di sektor keuangan, penguatan sistem keuangan melalui implementasi agenda reformasi sektor keuangan dan pemanfaatan teknologi menjadi fokus para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20. Rencana Financial Stability Board (FSB), Committee on Payments and Market Infrastructure dan Standard Setting Bodies (SSBs) dalam menyusun peta jalan (roadmap) penguatan sistem pembayaran lintas negara disambut baik oleh G20. Gubernur Bank Indonesia menyampaikan dukungan Indonesia atas agenda Presidensi G20 Arab Saudi khususnya cross borde payments dan transisi LIBOR (London Interbank Offered Rate).
            Solusi yang tepat untuk mengakhiri wabah covid-19 ini adalah dengan ditemukanya vaksin covid-19, vaksin adalah merupakan metode paling efektif untuk mencegah penyakit menular. Para ilmuwan-ilmuwan dari berbagai negara dunia sekarang berlomba-lomba dalam menemukan vaksin covid-19 tersebut, dan kambar gembiranya ilmuwan dari China sudah menemukuan vaksin tersebut dan segera untuk diproduksi massal, Vaksin itu sendiri dikembangkan para peneliti dari Akademi Ilmu Kedokteran Militer di Wuhan, pusat penyebaran wabah virus corona. Pakar biowarfare militer terkemuka yang memimpin penelitian, Chen Wei, mengatakan bahwa pihaknya siap untuk mengakhiri epidemi virus corona. “Kami adalah komunitas masa depan bersama bagi umat manusia, dan vaksin adalah salah satu senjata ilmiah dan teknologi paling kuat untuk mengakhiri epidemi virus corona,” ungkap Chen Wei. Kini, vaksin COVID-19 yang sudah mulai diteliti sejak Januari itu siap diproduksi secara massal. “Sesuai dengan standar internasional dan hukum dan peraturan domestik, kami telah membuat persiapan awal untuk keselamatan, efektivitas, kualitas yang terkendali, dan produksi massal,” lanjut Chen.
            Selain vaksin covid-19 sebagai solusi untuk berakhirnya covid-19, terdapat juga fasilitas yang memadai mulai dari obat-obat an, peralatan lengkap medis, rumah sakit, dan tentunya tenaga kerja yang ahli atau para dokter dan perawat yang banyak dan berkualitas. Karena kita bisa belajar dari negara China yang dimana sekarang negara China dapat mengendalikan covid-19.
            Jakarta, CNBC Indonesia - China melaporkan tidak ada kasus kematian akibat penyakit COVID-19 dalam tiga berturut-turut pada Sabtu (21/3/2020). Sayangnya, kasus terjangkit masih tetap ada, dan dikonfirmasi peningkatan tertinggi didapat dari luar negeri. Tingkat infeksi kian melambat selama berminggu-minggu di China yang menjadi sumber wabah. Sementara seluruh dunia meningkatkan langkah-langkah untuk mencoba dan memerangi pandemi yang makin meluas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (20/3/2020) memuji keberhasilan China dalam mengendalikan wabah di pusat kota Wuhan, tempat virus pertama kali muncul Desember 2019 lalu. “Wuhan memberikan harapan bagi seluruh dunia bahwa bahkan situasi yang paling parah dapat berbalik,” kata ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual di Jenewa, dikutip dari AFP.
            Dengan demikian wajar bila negara China dapat cepat dalam mengendalikan covid-19 yang dimana wabah tersebut berasal dari negaranya sendiri, karena dengan ketersediaanya fasilitas yang lengkap dan tenaga kerja yang banyak dan berkualitas. Langkah lainnya yang dilakukan pemerintah China yakni membatasi perkumpulan publik yang dapat mengundang banyak massa dan menyetop operasional transportasi publik. Sekolah, universitas, dan pertokoan dihentikan sementara. Pemerintah juga menerapkan pemeriksaan suhu di jalan dan menerjunkan beberapa aparat di pintu-pintu masuk bangunan tempat tinggal untuk berjaga. Perusahaan di Beijing bahkan membantu pemerintah dengan menerbangkan drone dilengkapi kamera termal untuk meningkatkan deteksi virus hingga membantu mengembangkan vaksin. China mampu membuat rumah sakit darurat dalam waktu kurang dari dua pekan. Beberapa lainnya disiapkan dari fasilitas publik yang sudah ada, seperti bangunan sekolah, stadion, atau pabrik, yang dapat menampung hingga dua ribu pasien. Pemerintah menerjunkan sekitar 1.400 petugas medis dari kalangan militer untuk merawat sekitar 1.000 pasien di masing-masing RS. Sebanyak 346 tim medis dari seluruh negeri masih disiagakan hingga hari ini. Jumlah keseluruhan tim yang diperbantukan mencapai 42.600, termasuk 19 ribu tenaga kesehatan.






BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
            Dalam keadaan yang bisa dikatakan genting ini, menimbulkan banyak keresahaan dalam masyarakat dunia sehingga menimbulkan banyak negara-negara di belahan dunia yang menutup akses keluar-masuk atau menutup perbatasan yang sekarang disebut dengan istilah “Lock Down”. Dan terdapat berbagai dampak negatif yang disebabkan oleh covid-19 ini, mulai dari banyaknya kematian, perekonomian yang rapuh, akses keluar masuk di tutup, kontak sosial yang terbatas atau “social distancing”, harga bahan pokok menjadi melambung, meruginya sektor pariwisata dan tentunya juga meruginya UMKM serta para wirausahawan dalam menjalankan bisnisnya. Disisi lain juga terdapat dampak positifnya yaitu masyarakat lebih peduli akan kesehatan, seluruh dunia bekerja sama, manusia saling gotong royong atau membantu secara bersama, kualitas udara membaik dan hobi tertunda bisa terlaksana saat isolasi mandiri. Dan juga berbagai macam cara dalam mengatasi wabah penyakit ini, cara tepat untuk bisa mengakhiri wabah ini yaitu dengan ditemukannya vaksin covid-19, karena dengan vaksin ini merupakan metode yang paling efektif untuk menyegah penyakit atau covid-19 yang cepat menular ini. Selain vaksin covid-19 untuk mengatasi wabah ini, juga terdapatnya fasilitas yang lengkap serta berkualiatas dan tentunya juga banyaknya para tenaga yang ahli dalam bidangnya yang ikut berkontribusi dalam penanganan wabah ini.
            Negara China merupakan negara yang bisa dikatakan sebagai contoh untuk penanganan wabah covid-19, yang dimana dengan sikap pemerintah China yang sigap, tegas dan tentunya menggunakan strategi-strategi dalam menangani wabah ini, antara lain dengan membangun rumah sakit darurat yang selesainya kurang dari dua minggu, pengecekan kesehatan secara meluas, serta berbagai banyaknya fasilitas-fasilitas yang diupayakan juga layak dan berkualitas dalam menangani wabah ini. Sehingga wajar saja dalam 5 hari belakangan tidak ada kasus baru wabah covid-19 ini di China, khususnya di Wuhan tempat sumber wabah covid-19 tersebut muncul.

B.      SARAN  
            Melihat berbagai macam banyaknya dampak dari covid-19, mengharuskan pemerintah di Indonesia untuk sigap dan tegas. Pemerintah Indonesia perlu banyak mencontoh negara China dalam penanganan kasus ini. Terutama PR bagi pemerintah Indonesia dalam mengatasi fenomena sekarang ini, yang dimana ada beberapa rumah sakit yang tidak mau atau menolak pasien covid-19 dianggap merugikan rumah sakit, anggapanya bahwa banyak pasien-pasien biasa yang pindah rumah sakit sebab ketakutan akan tertularnya covid-19 dari pasien covid-19 tersebut, sehingga rumah sakit mengalami kerugian yang besar atau bisa dikatakan sekarang rumah sakit sebagai ladang perbisnisan bukan sebagai kesosialan lagi. Dari sisi Islam sendiri pun juga menyarankan untuk “Social Distancing”, istilah “Social Distancing” ini sendiri sudah ada ketika pada zaman khalifah Ummar Ibn Khattab, yang dimana khalifah Umar r.a dihadapkan wabah Tha’un di negeri Syam (Suriah dan sekitarnya) pada kala itu, dan kemudian menyuruh sahabat Amru bin Al-Ash r.a dalam mengani wabah Tha’un tersebut. Dan akhirnya Amru bin Al-Ash r.a menyeru kepada umat-umat muslim:
            Wahai manusia, sesungguhnya penyakit ini apabila menimpa maka ia akan bekerja bagaikan bara api maka bentengilah dari penyakit ini dengan berlari ke gunung-gunung.” (Diriwayatkan dari Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam kitab Badzal Maa’un hal 163).
            Dari pernyataan sahabat Amru bin Al-Ash r.a sama halnya dengan menerapkan kebijakan “Social Distancing” yang artinya membatasi kontak sosial dengan berbagai macam cara.
            Kalau kita berfikir lagi bahwa apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. benar faktanya tentang negeri China:
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ
Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China!”.
            Yang dimana negeri China merupakan negeri yang banyak ilmu dan dalam pelaksanaan pemerintahannya atau tata cara pengelolaannya bisa dijadikan contoh oleh negara-negara lain terkhususnya dalam menangani wabah baru ini yaitu covid-19.